Senantiasa Belajar

Belajar....Belajar....dan Belajar

Kerjasama dan Berkarya

Berkarya bersama menggapai cita-cita mulia

Tangguh

Tahan Banting, Tanggap Terhadap Perubahan Jaman

Profesional

Belajar menjadi profesional

Mandiri

Berdiri di atas kaki sendiri

Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Oktober 2014

Senangnya bertemu Pak Gubernur

Moment bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo adalah pada acara BBKT. 

Bulan Bhakti Karang Taruna (BBKT) se Provinsi Jawa Tengah 2014 yang dilaksanakan pada tanggal 9-11 Oktober 2014.Rangkaian kegiatan BBKT meliputi kegiatan kemah bhakti, donor darah, pengobatan massal, pameran gelar potensi karang taruna, pencanangan bulan bhakti karang taruna, sambung rasa bersama Gubernur Jateng dan lain-lain. 

Kegiatan ini bertempat di sekitar desa Rempoah dan Kemutug Kidul Kecamatan Baturraden.

Senin, 28 Oktober 2013

Hari Sumpah Pemuda : 28 Oktober

Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua  yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".


Berikut ini adalah bunyi "Sumpah Pemuda" sebagaimana tercantum pada salah satu bagianMuseum Sumpah Pemuda. Penulisan ini menggunakan ejaan van Ophuysen.
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga.  Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.
[sumber]

Rabu, 02 Oktober 2013

Hari Batik Nasional : 2 Oktober

Hari ini, Rabu 2 Oktober 2013 bangsa Indonesia memperingati Hari Batik Nasional, peringatan tahun ini adalah yang keempat. Perlu diketahui, Empat tahun lalu, tepatnya pada 2 Oktober 2009, batik diresmikan oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi milik Indonesia. Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap mata budayaIndonesia.

Sebagaimana diketahui sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 pada setiap tanggal 2 Oktober telah dinyatakan sebagai Hari Batik Nasional.

Senin, 26 Agustus 2013

Panggelar Putra XIII Masuk Nominasi Lomba Karang Taruna Berprestasi Tingkat Kabupaten Banyumas 2013


Kedungwringin [] Hari Jum'at, 23 Agustus 2013, Karang Taruna Panggelar Putra XIII mendapat kunjungan dari Tim Penilai Lomba Karang Taruna Berprestasi Tingkat Kabupaten Banyumas Tahun 2013.

Acara yang berlangsung pada pukul 13.30 tersebut berlangsung lancar. Acara dimulai dengan Pemaparan profil karang taruna yang bertempat di Balai Desa Kedungwringin. Kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke base camp yang tidak jauh dari Balai Desa Kedungwringin.


Sabtu, 10 Agustus 2013

Halal Bi Halal dan Temu Kangen


Kedungwringin [] Mengambil momen lebaran, Karang Taruna Panggelar Putra XIII mengadakan Halal Bi Halal dan Temu Kangen. Sabtu, 10 Agustus 2013. Acara yang dimulai pukul 20.00 ini bertempat di rumah saudari Ari Murtiana selaku Ketua Karang Taruna.

Sabtu, 01 Juni 2013

Hari Pancasila : 1 Juni


Hari Pancasila: Mengenang omong kosong pembumian Pancasila


Sekurang-kurangnya, ada tiga tarikh yang saling terkait dengan kelahiran Pancasila. Beberapa pandangan kelahiran itu adalah tanggal 1 Juni 1945, 22 Juni 1945, dan 18 Agustus 1945. Namun, peringatan hari Pancasila dikenal dan diperingati pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pada 1 Juni. 

Pengambilan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila diambil saat munculnya istilah Pancasila yang disampaikan Ir Soekarno di hadapan anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Tanggal 22 Juni 1945 didasarkan pada kompromi beberapa tokoh Panitia Sembilan yang menghasilkan rumusan dasar negara yang dikenal dengan Piagam Jakarta. Sedangkan 18 Agustus 1945 berdasar pada rumusan final Pancasila yang muncul dalam pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada 18 Agustus sebagai konstitusi negara.

Dalam buku Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yang diterbitkan Sekretariat Negara Republik Indonesia (1995) menyebutkan BPUPKI mengadakan rapat rahasia dan tertutup untuk umum untuk membahas dasar dan bentuk negara pada 29 Mei sampai 1 Juni 1945. Dalam sidang itu ada tiga nama yang disebut memberikan pidato untuk usulan dasar negara. Mereka adalah M Yamin, Mr Soepomo, dan Ir Soekarno . 

Pada hari terakhir, Ir Soekarno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara dan falsafah bangsa. Dari pidato itulah kemudian muncul istilah Pancasila. Berikut petikan pidatonya yang dikutip dari buku, "Pendidikan Kewarganegaraan: Perjuangan Menghidupi Jati Diri Bangsa", yang ditulis oleh Minto Rahayu:

"Dasar negara yang saya usulkan. Lima bilangannya. Inilah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya menamakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa (Muhammad Yamin ) namanya Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia kekal dan abadi," seperti yang dikutip Minto dalam bukunya.

"Dasar negara, yakni dasar untuk di atasnya didirikan Indonesia Merdeka, haruslah kokoh kuat sehingga tak mudah digoyahkan. Bahwa dasar negara itu hendaknya jiwa, pikiran-pikiran yang sedalam-dalamnya, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Dasar negara Indonesia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak keindonesiaannya dan sekalian itu dapat pula mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, aliran, dan golongan penduduk," tulis Minto lebih lanjut.

Minto menuliskan, dalam pidato Ir Soekarno saat itu dikemukakan lima prinsip asas dasar negara Indonesia Merdeka, yaitu: kebangsaan Indonesia, internasionalisasi atau peri kemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan, ketuhanan. Dalam kelanjutannya usulan itu dibicarakan dan dikompromikan dengan tokoh-tokoh yang lainnya hingga Pancasila yang kita kenal sekarang. 

Sedangkan dalam buku "Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas", yang ditulis Yudi Latif, Ir Soekarno menawarkan tiga sila jika lima sila itu ditolak dan usulan satu sila.

"...Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socio-natioalisme, socio-demokrati, dan Ketuhanan. Kalau tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga itu. Tetapi barangkali tidak semua tuan-tuan senang kepada Tri Sila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu? ... Jikalau saya peras yang lima jadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan 'gotong royong' Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong," tulis Yudi dalam bukunya mengutip pidato Ir Soekarno saat itu.

Yudi menilai prinsip dasar Pancasila dijiwai oleh gotong royong, yakni prinsip ketuhanan yang berkebudayaan, yang lapang dan toleran, bukan ketuhanan yang saling menyerang dan mengucilkan. Internasionalisme gotong royong, bukan menjajah dan ekploitatif. Kebangsaannya gotong royong, mampu mengembangkan persatuan dan berbagai perbedaan atau bhineka tunggal ika. Demokrasi gotong royong, demokrasi yang mengembangkan musyawarah mufakat, bukan demokrasi yang didikte oleh suara mayoritas atau minoritas elite penguasa atau pemodal. Kesejahteraan gotong royong, mengembangkan partisipasi dan emansipasi bidang ekonomi dengan semangat kekeluargaan bukan visi kesejahteraan yang berbasis individualisme-kapitalisme dan tidak mengekang kebebasan individu. 

Dalam seminar Bulan Bung Karno yang diadakan Megawati Institute di Hotel Four Season, Kuningan, Jakarta Selatan pada 6 Juni tahun lalu, Yudi menyampaikan, dengan cara-cara itulah Pancasila bisa bergerak untuk menyentuh dan mendekati realitas. Menurut Yudi, ujian terakhir keampuhan Pancasila bisa dilihat bila setiap silanya bisa dibumikan dalam kenyataan. Namun sayang, menurut Yudi saat itu, Pancasila hanya sekadar impian yang tak pernah dibumikan oleh setiap pemimpin republik ini.

Dalam forum itu Yudi mengecam, selama ini pembumian Pancasila tidak lebih dari seremoni dan komedi omong kosong dalam berbagai bentuk, seperti dalam bentuk penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) pada zaman Orde Baru dan seremoni Empat Pilar (4P) saat ini yang disampaikan dengan penuh kemiskinan metodelogi dan kesempitan imajinasi dalam membentuk karakter bangsa.

Hari ini, tepat 68 tahun kelahiran Pancasila. Pemberitaan dan analisa media dan tokoh akan oligarki dan kartel politik kian menjadi-jadi, makin memuakkannya mendengar putusan hakim pengadilan akan perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sudah menjalar ke berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selamat hari Pancasila. Bhineka tunggal ika.

http://www.merdeka.com/peristiwa/hari-pancasila-mengenang-omong-kosong-pembumian-pancasila.html

Rabu, 01 Mei 2013

Hari Buruh : 1 Mei


sumber gambar :http://www.wisatasingapura.sg
Hari Buruh Sedunia atau dikenal juga dengan sebutan May Day diperingati setiap 1 Mei. Di beberapa negara, May Day ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Sejarah May Day tidak terlepas dari perjuangan kaum buruh dalam menuntut delapan jam kerja. Abad ke-19 adalah periode di mana buruh dihadapkan pada kenyataan bahwa dari 24 jam sehari, mereka rata-rata bekerja 18-20 jam. Tak pelak lagi bahwa tuntutan yang diajukan adalah memperpendek jam kerja.

Perjuangan menuntut delapan jam kerja ini diawali oleh demonstrasi kaum buruh di Amerika Serikat pada 1 Mei 1886. Demonstrasi yang diikuti oleh 400 ribu buruh ini berlangsung selama berhari-hari dan berbuntut pada penyerangan dan penembakan terhadap peserta demonstrasi yang dilakukan oleh polisi.

Pada Juli 1889, Kongres Buruh Internasional yang diselenggarakan di Paris, Prancis, menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai Hari Buruh Sedunia dan mengeluarkan resolusi yang berisi:
"Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi delapan jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional di Paris."

Resolusi tersebut mendapat sambutan hangat dari berbagai Negara. Dan sejak 1890, tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Sedunia oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.

Di Indonesia, Hari Buruh Sedunia sudah diperingati sejak pemerintahan Presiden Soekarno. Namun pada era kediktatoran Soeharto, perayaan ini dilarang untuk diperingati karena dianggap identik dengan gerakan dan paham Komunis yang kerap dikaitkan dengan kejadian G30S/PKI.

Semasa Orde Baru berkuasa, aksi untuk peringatan May Day masuk kategori aktivitas subversif, karena selalu dikonotasikan dengan ideologi komunis.Konotasi ini jelas tidak tepat, karena mayoritas negara-negara di dunia, yang sebagian besar menganut ideologi nonkomunis, bahkan juga yang menganut prinsip antikomunis, justru menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh dan menjadikannya sebagai hari libur nasional.

Setelah era Orde Baru runtuh, Hari Buruh Sedunia kembali diperingati di Indonesia seiring dengan bergulirnya semangat Reformasi yang mengusung keterbukaan dan demokrasi.

Kekhawatiran Soeharto mengenai gerakan massa buruh yang dimobilisasi setiap 1 Mei membuahkan kerusuhan, ternyata tidak pernah terbukti. Karena sejak peringatan May Day tahun 1999 hingga 2006 tidak pernah ada tindakan destruktif yang dilakukan oleh gerakan massa buruh yang masuk kategori 'membahayakan ketertiban umum'.

Yang terjadi justru tindakan represif aparat keamanan terhadap kaum buruh, karena kebanyakan dari aparat tersebut masih berpedoman pada paradigma lama yang menganggap peringatan May Day adalah subversif dan didalangi gerakan komunis.

Jumat, 16 Maret 2012

Profil Desa Kedungwringin

Kedungwringin adalah desa di kecamatan Patikraja , Banyumas , Jawa Tengah , Indonesia .

Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Tanjung, Purwokerto Selatan.
Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sidabowa, Patikraja.
Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Karangpucung, Purwokerto Selatan.
Sebelah barat berbatasan dengan Desa Kediiri Kecamatan Karanglewas.

Kedungwringin terbagi menjadi 8 Rukun Warga (RW).
Nama grumbul :  Kedungwringin, Pengasinan, Kedungmindi, Rawadawa, Munthang.